Langsung ke konten utama

Do I need man in my life?

Kadang aku berpikir, aku bisa melakukan semua hal sendirian. Nyuci baju, nyetrika, beresin rumah, masak, dan bahkan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki seperti ngangkat galon, masangan tabung gas, ngecat dinding, masang gorden dan mengendarai motor sejauh 135 km untuk pulang kampung. 

Aku memiliki pekerjaan yang membuatku bisa menafkahi diri sendiri dan memenuhi segala keinginanku sebagai perempuan. There's lot of things I can do by my self so I think I don't need man in my life. Hidup sendiri terlalu nyaman. Walau kadang kesepian. But "kesepian" is not a big deal. Being alone is better than having a man that make me feel uncomfortable with. 

Aku ga pernah merasa iri dengan teman-teman sebayaku yang menikah duluan, karena aku sudah cukup bahagia dengan hidupku sekarang. Jika suatu saat aku juga menikah, laki-laki yang menikahiku tentunya hanya jadi pelengkap bahagiaku, bukan tempat aku bergantung secara finansial. 

Aku telah lama belajar menjadi orang yang bahagia karena diri sendiri. Sehingga aku tidak menjadikan orang lain sebagai alasan untukku bahagia. Lebih tepatnya, tidak lagi menjadikan laki-laki sebagai alasan untuk bahagia. Dulu, tentu saja pernah. Tapi kebahagianku hilang bersama dengan lenyapnya dia dari hidupku. Dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Aku tau laki-laki yang tepat akan datang disaat yang tepat. Hingga saat yang tepat itu tiba, aku tidak keberatan menunggu. Menunggu yang tepat lebih baik daripada menikah dengan laki-laki yang salah. Yang nantinya malah menambah beban dalam hidup yang sudah demikian rapi aku tata. Jadi tidak apa-apa aku belum menikah. Tidak apa apa aku tidak punya pasangan sekarang. Umurku 24. Come on dude, it's still early, isn't it?

I hope my mom has the same thought with mine. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Day 1 : Describe Your Personality

Aku bukan orang baik. Tapi, aku juga nggak jahat. Seperti layaknya manusia pada umumnya, aku adalah orang yang biasa-biasa saja. Satu hal yang aku sadari adalah aku nggak bisa fake . Kalau aku tidak menyukai seseorang, kalian langsung bisa melihat itu dengan jelas dari wajahku. Aku tidak akan tersenyum palsu di depan orang yang tidak aku senangi. Aku tidak akan pura-pura bahagia ketika sedih dan tidak akan pura-pura ceria disaat badmood . Aku suka berteman dengan siapa saja. Tapi sekali mereka menyakitiku, aku mungkin tidak bisa memaafkannya begitu saja. Jikapun bisa, kenangan buruk yang mereka buat tidak akan mudah untuk aku lupakan. Aku juga mudah menyayangi seseorang. Entah itu pasangan atau teman. Sekali aku memilih punya hubungan, aku akan menyayangi mereka dengan tulus, dan percaya apapun yang mereka katakan. Aku tidak suka berburuk sangka. Aku menganggap semua orang tulus seperti rasa tulusku kepada mereka. Maka, sekali dikhianati, aku akan merasakan sakit yang luar biasa. M...

Aku Berubah

Malam ini, aku ingin cerita tentang beberapa hal yang sudah berubah di diriku. Tentu saja perubahan ini terjadi setelah aku memutuskan punya hubungan dengan seseorang. Tanpa memperpanjang waktu, mari kita ulas satu persatu. 1. Sebelum bertemu denganmu, hidupku bahagia. Semenjak bertemu denganmu, ku makin bahagia. Okay, itu lirik lagu. Tapi lirik itu benar adanya. Lirik itu benar-benar terjadi di hidupku. Sebelum bertemu dia, aku bahagia dengan kesendirianku. Punya teman yang banyak tidak begitu membuatku depresi walau tidak punya pacar. Hanya saja, aku sedikit merasa kesepian karena tidak ada yang mengucapkan selamat pagi ketika aku bangun tidur, dan tidak ada yang mengucapkan selamat malam disaat ingin tidur. Sejak bertemu dengannya, aku semakin semangat bangun pagi, karena aku tau aku harus membangunkan dia juga. Melihatnya bangun tidur adalah mood booster buatku. Aku juga semakin tidak ingin tidur ketika malam hari, karena ingin terus melihat wajahnya di layar handphone saat v...

I Do Wanna Be a Mother

Kurang dari sebulan lagi, umurku 24. Mamak bilang, di umur segini, beliau sudah nimang bayi. Abang ku yang pertama lahir ketika Mamak berusia 23 Tahun. Look at me now, jangankan punya bayi, punya pasangan aja belum ada tanda-tanda. I dont want to compare my mother's life with mine, but sometimes, it just feels sucks.  Aku boleh menipu semua orang tentang aku yang tidak terpengaruh dan tidak iri melihat teman-teman sebayaku menikah duluan. Aku bisa membuat mereka bahkan iri kepadaku yang masih single, dan bisa berpergian kemana saja sesukaku. Aku bisa menipu semua orang bahwa hidup sendiri itu menyenangkan.  Hidup mandiri dan mengandalkan diri sendiri juga tidak mengurangi kebahagian. Tapi memiliki keluarga kecil, punya suami yang bisa diandalkan dalam segala hal, dan punya anak yang lucu, dipanggil ibu, tetap saja lebih indah bukan? Bukankah seorang perempuan akan dianggap sempurna ketika mereka memiliki keturunan? I do want to be a mother, and at this age.. it's a normal wish...