Langsung ke konten utama

Postingan

Berdamai Dengan Hati

Berdamailah dengan hatimu. Berdamailah dengan segala perasaan yang kau miliki untuknya. Untuk siapapun dia di masa lalumu. Kau sendiri paling tau, bahwa menyimpan rasa itu tidak lah benar. Semuanya sudah berakhir. Maka jangan lagi kau sulit api untuk membakar kayu yang telah lama padam. Aku tau, sulit bagimu begitu saja melupakan perasaan yang mekar begitu lama dalam relung hatimu yang terdalam. Tapi, kau kini telah dewasa. Maka dewasalah menyikapi perasaan yang tak lagi layak untuk dipelihara. Kau harus tau bahwa perasaan harus dikalahkan oleh logika dan kenyataan. Perasaan tak selalu harus dijunjung tinggi dan diperhatikan. Jikapun segenap usahamu telah kau kerahkan, namun tak juga kau berhasil melupakannya, maka silakan nikmati perasaan itu, tanpa harus berkeinginan memilikinya lagi. Kau juga paling tau bahwa hakikatnya mencintai bukan berarti harus memiliki. Karena jika kau saja yang ingin, selamanya kalian berdua tidak akan bersama. Ibaratnya, kau menepuk sebelah tanganmu, sampai...

Ibu Rumah Tangga

Hari-hariku kini terlalui dengan kebiasan-kebiasaan baru. Bangun pagi-pagi, belanja ke pasar, lalu pulang kerumah dengan membawa sekantong belanjaan, menyiang ikan, mengiris bawang, cabai, tomat dan segala macam jenis bumbu masakan. Aku akan dengan telaten memasak makanan untuk disantap sebagai sarapan, makan siang dan makan malam oleh abang-abang dan adikku. Awalnya, aku membenci kebiasaan ini. Bagaimanapun, aku terlahir sebagai anak yg sedikit manja -menyentuh dapur dirumah adalah keajaiban buatku dimasa sekolah. Dulu ketika aku masih tinggal dengan mamak, beliau akan senang hati memasak sendiri setiap hari tanpa harus melibatkan aku yang tidak bisa apa-apa (setidaknya menurutnya begitu). Aku menjalani waktu remajaku dengan banyak bermain. Ketika mulai masuk kuliah, aku tinggal sendiri -dengan beberapa orang teman dengan menyewa sebuah kos-kosan dilingkungan sekitar kampus. Kesibukan kuliah dan berorganisasi membuatku hampir tidak pernah menyentuh dapur. Aku hanya memasak ketika ...

MENIKAH, AJANG PAMERKAH?

“Kenapa belum nikah?” Sebuah pertanyaan yang kerap dilontarkan saat ini. Ini adalah bulan syawal. Bulan syawal terkenal sebagai bulan menikah karena banyaknya orang yang menikah pada bulan itu. Tahun ini banyak teman-teman sebayaku yang memilih untuk mengakhiri masa lajangnya. Tidak heran mengingat usia mereka sudah menginjak angka 22 tahun. Bagi orang yang ingin menikah, bulan syawal merupakan bulan bahagia. Namun, bulan syawal ini adalah bencana bagi orang-orang yang belum ingin menikah namun terus dihantui pertanyaan “kapan menikah” oleh keluarga dan orang-orang disekelilingnya. Tidak jarang di acara pertemuan keluarga atau berkunjung kerumah guru SMA, selain pertanyaan “kapan selesai kuliah”, pertanyaan “Kapan menikah” adalah favorit para orang tua. Dan kita, sebagai objek yang ditanyai, sudah panas kuping mendengarnya.  Aku tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang kampung, yang masih sangat primitif. Mereka berpikir bahwa seorang perempuan sehabis kuliah ...

Lihatlah, Aku Akan Wisuda Tahun Ini

            Jika saja aku tau begini akhirnya, aku tak akan menyia-nyiakan waktu satu semester yang lalu. Aku akan bergerak cepat, melupakan keinginanku untuk bersantai dan membunuh kemalasan yang hinggap setiap saat. Aku akan mencari dosen pembimbing dan referensi sebanyak – banyaknya untuk kupelajari di masa libur. Aku akan rajin membaca jurnal dan buku – buku setiap pagi dan malam hari supaya bisa menulis BAB 1 dan BAB 2 serta BAB 3 secepatnya agar aku bisa naik seminar proposal. Aku akan memakai baju putih dan jilbab putih serta rok hitam lalu berfoto dengan dosen pembimbing dan dosen penguji disebelahku. Tak lupa aku akan mengunggahnya ke instagramku dengan caption “Alhamdulillah, one step closer ”. Aku akan ditonton dan diberikan semangat oleh teman – temanku. Akan banyak teman – teman mengirimkan chat untuk sekedar memberikan ucapan “selamat ya, udah sempro. Semoga cepat naik hasil”. Atau yang usil akan memberi komentar ...

Teruntuk Mahasiswa Akhir

Skripsi adalah salah satu syarat untuk mahasiswa agar mendapat gelar sarjana. Untuk menulis skripsi, tentu banyak ilmu pengetahuan yang harus dimiliki mahasiswa. Menulis skripsi sama saja dengan menulis buku. Sebuah buku ditulis jika ada penulis dan ada pengetahuan. Untuk dapat pengetahuan tentu saja kita harus banyak membaca agar kemudian bisa dituangkan kedalam buku yang akan kita tulis.   Untuk itu, jangan terlalu takut tidak bisa menulis skripsi. Mulailah dengan membaca. Jika kamu merasa malas, mulai lah kebiasaan baik dengan bangun lebih pagi, berolahrga, datang ke kampus walaupun tidak ada yang akan kamu kerjakan. Karena dikampus kamu akan melihat teman – temanmu menulis skripsi. Kamu akan melihat teman – temanmu mencari jurnal, menjumpai dosen pembimbing, berlomba – lomba mendaftarkan seminar. Dengan begitu, kamu akan terinspirasi untuk menulis skripsimu, seperti teman – temanmu.  Bagi kamu yang terlambat sadar, setelah bermain sekian lama, tak usah kamu sesali...

Menolak Lupa

Lihatlah saat ini, ketika teman se-kontrakan tengah sibuk nobar drama korea, aku malah memilih menyendiri dikamar ini. Menutup pintu serapat mungkin, lalu menguncinya, agar tak satupun bisa masuk lalu menggangu kesendirianku. Aku memang sedang tak ingin di ganggu. Aku ingin sendirian. Melepaskan semua beban yang sudah tak sanggup kupikul lagi. Aku lelah, sangat lelah. Aku berfikir dengan menangis aku akan merasa lega walau aku tau pada kenyataannya itu tak merubah apapun. Pikiranku masih saja membayangkan kejadian tempo hari, saat aku melihat kekasihku –mantan kekasihku, berdiri berhadapan dengan kekasihnya. Dari kejauhan aku dapat menangkap binar – binar bahagia dari wajahnya. Mereka tidak malu – malu mengubar kemesraan di depan umum. Dan lagi, walau dengan jarak sejauh itu, kedua telingaku masih mampu mendengar dia memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘sayang’. Sebutan yang dulu adalah milikku. Sebutan yang kerap dia sebutkan ketika pagi hari aku terbangun dari...

Harus Merelakannya

"Aku pulang dulu kak” Tanpa menunggu jawaban, aku bangkit berdiri dan bergegas keluar, meninggalkan ruang yang sedari tadi menyisakan sesak. Dia diam saja, tidak ada niat sedikitpun menahanku. Sepertinya, memang itu yang dia mau. Berat langkah kakiku, tapi kucoba terus melangkah. membelakanginya, menjauh darinya.  Aku sudah sampai di palataran parkir, ketika dia berdiri di ambang pintu. "Hati – hati ya dek. Makasih oleh olehnya. Kakak suka”. hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulutnya, membuatku merasa bahwa keputusanku untuk pergi adalah keputusan yang tepat. Dan benar, dia memang tidak berniat menahanku, samasekali. Alih alih menjawab, aku menatapnya dengan pandangan datar. Tanpa menunggu lebih lama, aku masuk kemobilku lalu pergi.  Tapi, ini adalah kali terakhir aku bicara dengannya tentang perasaanku. Dan ini belum selesai, pikirku. Menyingkirkan ego, aku menghentikan mobil, lalu keluar lagi. Aku menghampirinya yang masih di ambang pintu. "Kak, we...