Kamis, 03 September 2020

Belajar Memahami Diri

Beberapa waktu yang lalu, aku belajar memahami diriku dengan menjawab 3 pertanyaan dibawah ini. Let me share the answers to you.

1.       Apa yang paling kusuka dari diriku sendiri?

Aku orang yang sangat disiplin dan punya komitmen. Aku tipe orang yang menghindari sekali membatalkan janji, apalagi di detik-detik terakhir. Aku juga sangat bersih dan rapi, tidak mau membiarkan rumah tinggal dalam keadaan kotor karena tentu saja tidak nyaman ditempati. Aku tidak akan tidur jika penampilan sepreku masih berantakan, bahkan di saat hendak tidurpun aku harus rapi. Aku suka diriku yang tidak merepotkan orang lain, tidak pernah meminta orang lain menemaniku melakukan hal-hal sepele seperti berbelanja, makan di cafe, dan membeli buku, karena semuanya bisa aku lakukan sendiri. Aku suka diriku yang tidak suka membicarakan orang lain, tapi lebih menyukai pembicaraan yang sifatnya membuat pikiranku lebih produktif. Aku juga selalu bersedia ketika temanku meminta bantuan, karena aku sadar kita tidak bisa hidup sendiri, kita saling membutuhkan.

2.       Apa yang kurasa perlu diperbaiki?

Namun, dibalik semua hal yang aku suka pada diriku, aku juga tentu memiliki banyak kekurangan. Dalam hal mengontrol emosi, aku masih 0 besar. Aku bisa saja marah karena ada hal-hal yang terjadi yang tidak sesuai dengan planning yang sudah aku buat. Aku akan marah ketika orang yang buat janji denganku datang terlambat karena membuang-buang waktuku menunggunya. Maka, aku perlu belajar menerima bahwa ada beberapa hal yang diluar control aku sebagai manusia biasa. Aku perlu menurunkan sifat emosian ini. Selain itu, aku orang yang labil, tidak dapat mengambil keputusan dengan cepat. Tapi kadang-kadang aku juga terlalu nekat mengambil keputusan, yang seringnya malah menimbulkan masalah pada diriku sendiri. Aku perlu belajar percaya diri dalam mengambil keputusan, dan belajar memprediksi resiko dari keputusan yang aku ambil.

Aku orang yang sangat sensitif, cepat merasa sedih jika tau ada orang yang membicarakan diriku dibelakangku. Aku perlu belajar untuk dapat mengontrol perasaan, karena apa yang orang lain bicarakan tentangku, tidak mendefinisikan diriku yang sebenarnya. Dan seharusnya, sikapku kepada orang lain tidak bergantung dari sikap orang lain kepadaku. Seharusnya, aku tetap baik ke orang yang tidak bersikap baik padaku.

3.       Momen apa dalam hidupku yang paling bikin aku bangga+bahagia?

Ada sebuah moment dalam hidupku yang paling membuatku bahagia, itu ketika aku membelikan mama dan ayah hadiah dari uang pertama yang aku hasilkan dari bekerja. Aku juga bangga pada saat selesai sidang sarjana, karena pada saat itu aku berhasil menjawab semua pertanyaan dosen dan mendapatkan nilai sempurna. Aku sadar detik itu aku telah mengalahkan ego dan berusaha sangat keras pada saat menulis tugas akhir. Aku berhasil menjadi Sarjana sesuai target yang aku bangun, tepat 4 tahun. Aku juga bangga, aku tidak lagi hidup di atas beban orangtuaku. Walaupun belum bisa memberi, setidaknya aku tidak lagi meminta.

Saat mencoba mengenal diri sendiri, kita tidak hanya perlu menulis kelemahan, tapi juga yang baik-baik yang ada. Hal-hal yang baik pada diri kita harus diapresiasi, kan? Aku tau kalian ga akan berpikir bahwa kalimat yang kutulis diatas adalah bentuk dari kesombongan. Tapi kadang-kadang, untuk bisa bersyukur kepada Tuhan, kita perlu berterimakasih pada diri sendiri. Berterimakasih atas semua perjuangan dan pengorbanan yang kita lakukan demi mencapai titik dimana kita berada saat ini. Supaya timbul yang namanya 'self love', supaya kita ngga menjadi orang yang selalu meremehkan diri sendiri.

Orang-orang akan lebih mudah mengucapkan terimakasih kepada orang lain, tapi tidak ke dirinya sendiri. Hal itulah yang justru membuat kita selalu berada dipemikiran “I can’t do it, atau, how can I?” sehingga menyebabkan rasa insecure kerap kali muncul pada saat kita ingin melakukan sesuatu.

Jadi, sejak belajar tentang self love aku lebih sering berterimakasih pada diri sendiri. Aku mengucapkan terimakasih kepada diriku yang sudah bekerja keras, tidak banyak mengeluh dan selalu menemukan jalan keluar dari masalah-masalah yang ada di dunia yang kejam ini. Aku bahkan sering membeli hadiah untukku sendiri. Aku memperlakukan diriku dengan baik, supaya aku juga bisa memperlakukan orang lain dengan cara yang sama. Aku percaya bawa rasa bahagia yang muncul dari dalam diri kita akan jadi pemicu untuk membahagiakan orang lain juga.

Tapi, kalau kita kurang bahagia, bagaimana mungkin kita bisa buat orang lain bahagia?




Rabu, 12 Agustus 2020

I Do Wanna Be a Mother

Kurang dari sebulan lagi, umurku 24. Mamak bilang, di umur segini, beliau sudah nimang bayi. Abang ku yang pertama lahir ketika Mamak berusia 23 Tahun. Look at me now, jangankan punya bayi, punya pasangan aja belum ada tanda-tanda. I dont want to compare my mother's life with mine, but sometimes, it just feels sucks. 

Aku boleh menipu semua orang tentang aku yang tidak terpengaruh dan tidak iri melihat teman-teman sebayaku menikah duluan. Aku bisa membuat mereka bahkan iri kepadaku yang masih single, dan bisa berpergian kemana saja sesukaku. Aku bisa menipu semua orang bahwa hidup sendiri itu menyenangkan.  Hidup mandiri dan mengandalkan diri sendiri juga tidak mengurangi kebahagian. Tapi memiliki keluarga kecil, punya suami yang bisa diandalkan dalam segala hal, dan punya anak yang lucu, dipanggil ibu, tetap saja lebih indah bukan? Bukankah seorang perempuan akan dianggap sempurna ketika mereka memiliki keturunan? I do want to be a mother, and at this age.. it's a normal wish, isn't it? 

Aku menulis ini bukan untuk menyalahkan keadaan, dan mempertanyakan kenapa aku juga masih belum diberikan jodoh oleh Tuhan. Apalagi menyalahkan diri sendiri atau merasa kurang layak untuk siapapun. Aku nggak se-insecure itu. Aku mampu kok, berdamai sama kenyataan. Tapi ini hanyalah sebuah keinginan tulus dari hati, karena aku hanyalah manusia dengan segala keinginan. Aku ga punya kontrol terhadap jodoh yang akan datang kepadaku, semuanya Allah yang atur. Entah aku akan menikah tahun ini, atau tahun depan, atau tahun depannya lagi, Aku hanya harus percaya kepada-Nya, kan? 


Jumat, 05 Juni 2020

Do I need man in my life?

Kadang aku berpikir, aku bisa melakukan semua hal sendirian. Nyuci baju, nyetrika, beresin rumah, masak, dan bahkan pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki seperti ngangkat galon, masangan tabung gas, ngecat dinding, masang gorden dan mengendarai motor sejauh 135 km untuk pulang kampung. 

Aku memiliki pekerjaan yang membuatku bisa menafkahi diri sendiri dan memenuhi segala keinginanku sebagai perempuan. There's lot of things I can do by my self so I think I don't need man in my life. Hidup sendiri terlalu nyaman. Walau kadang kesepian. But "kesepian" is not a big deal. Being alone is better than having a man that make me feel uncomfortable with. 

Aku ga pernah merasa iri dengan teman-teman sebayaku yang menikah duluan, karena aku sudah cukup bahagia dengan hidupku sekarang. Jika suatu saat aku juga menikah, laki-laki yang menikahiku tentunya hanya jadi pelengkap bahagiaku, bukan tempat aku bergantung secara finansial. 

Aku telah lama belajar menjadi orang yang bahagia karena diri sendiri. Sehingga aku tidak menjadikan orang lain sebagai alasan untukku bahagia. Lebih tepatnya, tidak lagi menjadikan laki-laki sebagai alasan untuk bahagia. Dulu, tentu saja pernah. Tapi kebahagianku hilang bersama dengan lenyapnya dia dari hidupku. Dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

Aku tau laki-laki yang tepat akan datang disaat yang tepat. Hingga saat yang tepat itu tiba, aku tidak keberatan menunggu. Menunggu yang tepat lebih baik daripada menikah dengan laki-laki yang salah. Yang nantinya malah menambah beban dalam hidup yang sudah demikian rapi aku tata. Jadi tidak apa-apa aku belum menikah. Tidak apa apa aku tidak punya pasangan sekarang. Umurku 24. Come on dude, it's still early, isn't it?

I hope my mom has the same thought with mine. 


Kamis, 10 Oktober 2019

Random Talk

Sebuah pepatah yang pernah kudengar, "kamu ga perlu menjelaskan siapa dirimu ke orang lain, karena yang menyayangimu ga butuh itu, dan yang membencimu tak kan percaya itu". Kini aku mengerti betul arti kalimat itu. Dalam hidup kadang kita dihadapkan dengan dua pilihan yang tak mampu kita pilih semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Banyak perasaan yang harus dijaga. Pun setelah akhirnya kita memilih, pasti akan ada pihak yang merasa engga puas. Ya, memang bukan tugas kita untuk memuaskan semua orang. Kita ga akan mampu. Jangan coba-coba.

Kadang, kita terlalu sibuk memikirkan perasaan orang, sampai kita lupa menjaga perasaan sendiri. It's okay to say "no". It's okay to get what we want. Karena kebahagian kita, kita lah yang bertanggungjawab untuk memenuhi itu. Perasaan yang bahagia, dimulai dari hal-hal kecil seperti sedikit egois untuk tidak selalu mengalah. Mengalah tidak selalu baik. Mental, psikologi kita, jauh lebih penting ketimbang menjaga perasaan orang yang bahkan engga akan melakukan hal serupa untuk kita.

Minggu, 06 Oktober 2019

Hai, Apakabar aku?

Apakabar aku?
Sebuah pertanyaan yang dituju untuk diri sendiri. Belakangan ini aku merasa semakin jauh dengan diriku yang sebenarnya. Atau bahkan jangan-jangan, aku tidak mengenal diriku lagi? 

Itulah yang kurasakan sampai aku memilih menuliskan keresahanku disini, sebuah tempat pelarian yang selama ini aku datangi diam-diam jika aku hanya butuh ketenangan. Aku memutuskan membuat blog ini bukan untuk memuaskan hati para pembacaku -yang entah ada entah tidak itu, namun lebih untuk menjadi rumah, tempat aku berkeluh kesah. Itulah juga kenapa aku selalu mengabaikan setiap ada pembaca yang komplain "Mir, ko ga pernah nulis lagi?". Hey, I'm not really a writer. Aku ini tukang curhat, bukan tukang tulis. Jadi maklum aja kalo yang aku tulis isinya curhat semua *lol.

Anyway, umurku sekarang 23 tahun. Kata mamak, aku harus jadi PNS. Supaya hidupku terarah, masa depanku terjamin, dan hidupku tenang. Tapi nyatanya, aku cuma jadi pegawai swasta, yang bahkan penghasilannya ga seberapa. Tapi mamak tetap senang, karena aku ga pernah lagi minta jajan *sombong.

Dan aku juga senang, karena aku ga lagi menyusahkan orangtua. Intinya, aku harus bersyukur diumur yang orang-orang bilang masih muda ini, aku sudah menyelesaikan beberapa tugasku dengan baik. Aku sudah selesai kuliah, aku sudah dapat pekerjaan. Aku bergabung dengan organisasi Pramuka tingkat Provinsi, sebuah cyrcle yang membawaku jadi orang yang banyak dikenal, sebuah tempat yang begitu banyak orang inginkan, dan aku beruntung bisa masuk didalamnya.

Tapi, memiliki semuanya belum tentu buat kita bahagia, kan? Manusia memang ga ada rasa syukurnya. Keinginan kita pun ga akan pernah ada habisnya. Aku bisa saja dipandang sebagai orang yang sukses, oleh teman-teman sebayaku yang bahkan belum bisa wisuda sampai sekarang. Tapi bagiku, aku belum apa-apa. Aku masih pengen sekolah, mendapatkan gelar yang lebih dari sarjana. Aku masih pengen bekerja di perusahaan besar, supaya ilmu matematika ini ngga sekedar untuk mencetak nilai di kertas bernama Transkrip. Aku masih ingin membangun karier seperti perempuan-perempuan Ibu Kota, yang dengan gagahnya menghasilkan puluhan juta direkening mereka setiap bulannya. Aku ingin hidup tanpa kekurangan finansial, aku ingin menjamin masa depan sendiri tanpa harus menjadi beban orang tua atau suamiku nanti jika aku sudah menikah. Perempuan bisa mandiri juga, kan?

Tapi, aku menyadari bahwa aku masih banyak kekurangan. Secara ilmu pengetahuan, aku engga ada apa-apanya dibading teman-teman sebayaku. Aku hanya beruntung bisa wisuda lebih cepat, catat ya: *hanya beruntung*, aku ngga bisa lancar berbahasa inggris sehingga nilai toefl yang jelek selalu jadi penghabat untuk aku bisa mendapatkan beasiswa S2 keluar negeri. Secara finansial, keluargaku ngga bisa membiayaiku kuliah tanpa subsidi pemerintah. Itulah kenapa aku harus berusaha lebih keras. Belajar lebih giat. Berbahasa inggris setiap hari di sosial media supaya aku terbiasa, walaupun kadang-kadang malu-maluin. Aku habiskan waktu kosong ditempat kerja untuk belajar toefl melalui youtube, atau kadang-kadang buka buku matematika lagi.

Aku berusaha keras mewujudkan keinginanku sampai aku tanpa sadar perlahan aku berubah menjadi orang yang anti sosial. Aku sibuk dengan obsesiku sehingga kadang-kadang, aku tidak punya waktu berbasa-basi dengan orang-orang disekitarku. Aku yang sangat malas bicara kalo bukan dengan teman-teman akrabku yang bikin aku nyaman. Aku yang menyendiri kalo bertemu orang-orang baru. Aku dianggap sombong, angkuh, dan aku sampai dititik dimana aku merasa cyrcle pertemananku semakin sempit, "aku ga punya teman lagi". 

Aku kemudian iseng membuka akun facebook-ku yang sudah aku buat sejak 9 tahun yang lalu. Aku buka kembali message history lalu menyadari bahwa dulu, banyak kok teman-temanku. Aku sadar, aku sudah terlalu jauh pergi, sendirian, dan tidak membawa teman. Aku salah. Aku harus berubah. Harus jadi orang baik, orang yang lebih peka dan peduli sekitar. Maaf ya teman-teman. Maaf aku sudah terlalu jauh berjalan. Yuk berpelukan lagi.














Rabu, 26 Juni 2019

Berdamai Dengan Hati

Berdamailah dengan hatimu. Berdamailah dengan segala perasaan yang kau miliki untuknya. Untuk siapapun dia di masa lalumu. Kau sendiri paling tau, bahwa menyimpan rasa itu tidak lah benar. Semuanya sudah berakhir. Maka jangan lagi kau sulit api untuk membakar kayu yang telah lama padam. Aku tau, sulit bagimu begitu saja melupakan perasaan yang mekar begitu lama dalam relung hatimu yang terdalam. Tapi, kau kini telah dewasa. Maka dewasalah menyikapi perasaan yang tak lagi layak untuk dipelihara. Kau harus tau bahwa perasaan harus dikalahkan oleh logika dan kenyataan. Perasaan tak selalu harus dijunjung tinggi dan diperhatikan.

Jikapun segenap usahamu telah kau kerahkan, namun tak juga kau berhasil melupakannya, maka silakan nikmati perasaan itu, tanpa harus berkeinginan memilikinya lagi. Kau juga paling tau bahwa hakikatnya mencintai bukan berarti harus memiliki. Karena jika kau saja yang ingin, selamanya kalian berdua tidak akan bersama. Ibaratnya, kau menepuk sebelah tanganmu, sampai kapanpun tak kan pernah kau hasilkan bunyi. Yang harus kau lakukan hanyalah berusaha mengerti, bahwa kau dan dia tidak bisa bersama karena tak punya rasa yang sama. Bahwa dua orang yang bersama haruslah memiliki perasaan yang sama. Dalam kasus ini, hanya kau yang punya rasa. Hanya dirimu yang ingin bersama. Sedangkan dia tidak. Lalu adilkah ini baginya? Kau harus paham. Jika kau saja berhak berjuang mendapatkan cintamu, maka bukankah dia juga berhak memperjuangkan cintanya? Yang harus kau terima adalah, cintanya bukanlah kamu. Maka, sekali lagi aku katakan, dewasalah. Dewasalah menyikapi perasaan sebelah pihak itu.

Memang benar, perasaan tidak bisa disalahkan. Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kau ciptakan dan kau ada-adakan. Dia muncul dengan sendirinya dari sudut hatimu secara perlahan. Namun kau bisa memilih, menjaganya untuk untuk tetap ada, atau berusaha melenyapkannya. Kau punya pilihan, bangkit lalu menatap masa depan, atau terus terbelenggu dengan perasaan yang tak lagi layak untuk kau pendam.

Tak perlu kau menangis. Usap air matamu. Lalu angkat dagumu, tatap lah kedepan. Nun jauh disana, seseorang yang lebih pantas akan datang menjemputmu, membawamu terbangun dari mimpi-mimpimu tentang cinta yang semu. Maka, hingga saat itu tiba, bersabarlah. Berdamailah dengan hatimu, karena seseorang itu akan membuatmu merasakan cinta yang sesungguhnya.

Rabu, 02 Januari 2019

Ibu Rumah Tangga

Hari-hariku kini terlalui dengan kebiasan-kebiasaan baru. Bangun pagi-pagi, belanja ke pasar, lalu pulang kerumah dengan membawa sekantong belanjaan, menyiang ikan, mengiris bawang, cabai, tomat dan segala macam jenis bumbu masakan. Aku akan dengan telaten memasak makanan untuk disantap sebagai sarapan, makan siang dan makan malam oleh abang-abang dan adikku.

Awalnya, aku membenci kebiasaan ini. Bagaimanapun, aku terlahir sebagai anak yg sedikit manja -menyentuh dapur dirumah adalah keajaiban buatku dimasa sekolah. Dulu ketika aku masih tinggal dengan mamak, beliau akan senang hati memasak sendiri setiap hari tanpa harus melibatkan aku yang tidak bisa apa-apa (setidaknya menurutnya begitu). Aku menjalani waktu remajaku dengan banyak bermain.

Ketika mulai masuk kuliah, aku tinggal sendiri -dengan beberapa orang teman dengan menyewa sebuah kos-kosan dilingkungan sekitar kampus. Kesibukan kuliah dan berorganisasi membuatku hampir tidak pernah menyentuh dapur. Aku hanya memasak ketika waktu senggang dan itu hampir tidak terjadi dalam satu bulan satu kali.

Diakhir masa kuliahku, adikku mulai memasuki bangku kuliah juga. Dia diterima diperguruan tinggi yang sama sepertiku. Dan karena abangku memilih untuk menetap dan bekerja di Banda Aceh juga, hal itu membuat kami memutuskan untuk menyewa rumah dan tinggal bersama. Aku bukan lagi anak kos-kosan tetapi ibu rumah tangga buat mereka.

Memang tidak ada yg memaksaku untuk melakukan pekerjaan rumah sebanyak itu, tapi naluriku sebagai satu-satunya perempuan dirumah ini, membuatku melakukan hal demikian. Aku tetap melakukannya walaupun tidak suka. Waktu mainku jadi berkurang. Aku harus lebih sering dirumah ketimbang diluar. Aku frustasi.

Setelah wisuda, aku memutuskan untuk pulang kampung selama kurang lebih sebulan, untuk menenangkan pikiran dan memikirkan apa hal selanjutnya yg harus aku lakukan.

Aku pikir, kembali kekampung adalah pilihan yg tepat disaat kepala penat. Aku tidak ingin direcoki dengan kegiatan yg menguras energiku terlalu banyak. Dua hari pertama aku menikmati liburanku. Hari ketiga, keempat, dan seterusnya membuatku kebosanan. Aku tidak punya pekerjaan. Dan mamak tidak membiarkanku melakukan pekerjaan rumah.

Aku menjalani hari-hariku dengan hanya makan, tidur dan mandi. Sekali-sekali menonton tv, kadang-kadang pasrah saja saat mamak memilihkan siaran sinetron. Aku hampir mati kebosananan. Namun siapa sangka, hal inilah yang kemudian membuatku sadar bahwa selama ini aku terlalu banyak mengeluh. Diberi pekerjaan aku ingin istirahat, dikasih istirahat aku ingin melakukan kegiatan. Aku memang payah.

Tidak ingin lebih lama lagi dalam kesalahan yang sama, aku minta izin orangtua untuk kembali ke Banda Aceh. Menemani adik dan abang-abangku dirumah sewa yang kecil ini. Memasak untuk mereka, mencuci piring dan berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya. Tapi kali ini, aku tidak lagi terpaksa. Aku melakukannya dengan senang hati. Akupun mulai mengurangi kegiatan diluar rumah yang kurang bermanfaat. Dan lambat laun, aku mulai menyenangi kebiasaan baruku. Menjadi ibu rumah tangga, untuk saudara-saudaraku.

Kalau ditanya apakah aku bahagia, of course aku bahagia. Bahagia bukanlah tentang semewah dan sekeren apa kegiatan yang kita lakukan, tapi tentang bersyukur dan membuat diri menjadi bermanfaat untuk orang banyak, terutama keluarga sendiri.

Awal tahun 2019, Banda Aceh.
Mira Alfira