Kamis, 10 Oktober 2019

Random Talk

Sebuah pepatah yang pernah kudengar, "kamu ga perlu menjelaskan siapa dirimu ke orang lain, karena yang menyayangimu ga butuh itu, dan yang membencimu tak kan percaya itu". Kini aku mengerti betul arti kalimat itu. Dalam hidup kadang kita dihadapkan dengan dua pilihan yang tak mampu kita pilih semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Banyak perasaan yang harus dijaga. Pun setelah akhirnya kita memilih, pasti akan ada pihak yang merasa engga puas. Ya, memang bukan tugas kita untuk memuaskan semua orang. Kita ga akan mampu. Jangan coba-coba.

Kadang, kita terlalu sibuk memikirkan perasaan orang, sampai kita lupa menjaga perasaan sendiri. It's okay to say "no". It's okay to get what we want. Karena kebahagian kita, kita lah yang bertanggungjawab untuk memenuhi itu. Perasaan yang bahagia, dimulai dari hal-hal kecil seperti sedikit egois untuk tidak selalu mengalah. Mengalah tidak selalu baik. Mental, psikologi kita, jauh lebih penting ketimbang menjaga perasaan orang yang bahkan engga akan melakukan hal serupa untuk kita.

Minggu, 06 Oktober 2019

Hai, Apakabar aku?

Apakabar aku?
Sebuah pertanyaan yang dituju untuk diri sendiri. Belakangan ini aku merasa semakin jauh dengan diriku yang sebenarnya. Atau bahkan jangan-jangan, aku tidak mengenal diriku lagi? 

Itulah yang kurasakan sampai aku memilih menuliskan keresahanku disini, sebuah tempat pelarian yang selama ini aku datangi diam-diam jika aku hanya butuh ketenangan. Aku memutuskan membuat blog ini bukan untuk memuaskan hati para pembacaku -yang entah ada entah tidak itu, namun lebih untuk menjadi rumah, tempat aku berkeluh kesah. Itulah juga kenapa aku selalu mengabaikan setiap ada pembaca yang komplain "Mir, ko ga pernah nulis lagi?". Hey, I'm not really a writer. Aku ini tukang curhat, bukan tukang tulis. Jadi maklum aja kalo yang aku tulis isinya curhat semua *lol.

Anyway, umurku sekarang 23 tahun. Kata mamak, aku harus jadi PNS. Supaya hidupku terarah, masa depanku terjamin, dan hidupku tenang. Tapi nyatanya, aku cuma jadi pegawai swasta, yang bahkan penghasilannya ga seberapa. Tapi mamak tetap senang, karena aku ga pernah lagi minta jajan *sombong.

Dan aku juga senang, karena aku ga lagi menyusahkan orangtua. Intinya, aku harus bersyukur diumur yang orang-orang bilang masih muda ini, aku sudah menyelesaikan beberapa tugasku dengan baik. Aku sudah selesai kuliah, aku sudah dapat pekerjaan. Aku bergabung dengan organisasi Pramuka tingkat Provinsi, sebuah cyrcle yang membawaku jadi orang yang banyak dikenal, sebuah tempat yang begitu banyak orang inginkan, dan aku beruntung bisa masuk didalamnya.

Tapi, memiliki semuanya belum tentu buat kita bahagia, kan? Manusia memang ga ada rasa syukurnya. Keinginan kita pun ga akan pernah ada habisnya. Aku bisa saja dipandang sebagai orang yang sukses, oleh teman-teman sebayaku yang bahkan belum bisa wisuda sampai sekarang. Tapi bagiku, aku belum apa-apa. Aku masih pengen sekolah, mendapatkan gelar yang lebih dari sarjana. Aku masih pengen bekerja di perusahaan besar, supaya ilmu matematika ini ngga sekedar untuk mencetak nilai di kertas bernama Transkrip. Aku masih ingin membangun karier seperti perempuan-perempuan Ibu Kota, yang dengan gagahnya menghasilkan puluhan juta direkening mereka setiap bulannya. Aku ingin hidup tanpa kekurangan finansial, aku ingin menjamin masa depan sendiri tanpa harus menjadi beban orang tua atau suamiku nanti jika aku sudah menikah. Perempuan bisa mandiri juga, kan?

Tapi, aku menyadari bahwa aku masih banyak kekurangan. Secara ilmu pengetahuan, aku engga ada apa-apanya dibading teman-teman sebayaku. Aku hanya beruntung bisa wisuda lebih cepat, catat ya: *hanya beruntung*, aku ngga bisa lancar berbahasa inggris sehingga nilai toefl yang jelek selalu jadi penghabat untuk aku bisa mendapatkan beasiswa S2 keluar negeri. Secara finansial, keluargaku ngga bisa membiayaiku kuliah tanpa subsidi pemerintah. Itulah kenapa aku harus berusaha lebih keras. Belajar lebih giat. Berbahasa inggris setiap hari di sosial media supaya aku terbiasa, walaupun kadang-kadang malu-maluin. Aku habiskan waktu kosong ditempat kerja untuk belajar toefl melalui youtube, atau kadang-kadang buka buku matematika lagi.

Aku berusaha keras mewujudkan keinginanku sampai aku tanpa sadar perlahan aku berubah menjadi orang yang anti sosial. Aku sibuk dengan obsesiku sehingga kadang-kadang, aku tidak punya waktu berbasa-basi dengan orang-orang disekitarku. Aku yang sangat malas bicara kalo bukan dengan teman-teman akrabku yang bikin aku nyaman. Aku yang menyendiri kalo bertemu orang-orang baru. Aku dianggap sombong, angkuh, dan aku sampai dititik dimana aku merasa cyrcle pertemananku semakin sempit, "aku ga punya teman lagi". 

Aku kemudian iseng membuka akun facebook-ku yang sudah aku buat sejak 9 tahun yang lalu. Aku buka kembali message history lalu menyadari bahwa dulu, banyak kok teman-temanku. Aku sadar, aku sudah terlalu jauh pergi, sendirian, dan tidak membawa teman. Aku salah. Aku harus berubah. Harus jadi orang baik, orang yang lebih peka dan peduli sekitar. Maaf ya teman-teman. Maaf aku sudah terlalu jauh berjalan. Yuk berpelukan lagi.














Rabu, 26 Juni 2019

Berdamai Dengan Hati

Berdamailah dengan hatimu. Berdamailah dengan segala perasaan yang kau miliki untuknya. Untuk siapapun dia di masa lalumu. Kau sendiri paling tau, bahwa menyimpan rasa itu tidak lah benar. Semuanya sudah berakhir. Maka jangan lagi kau sulit api untuk membakar kayu yang telah lama padam. Aku tau, sulit bagimu begitu saja melupakan perasaan yang mekar begitu lama dalam relung hatimu yang terdalam. Tapi, kau kini telah dewasa. Maka dewasalah menyikapi perasaan yang tak lagi layak untuk dipelihara. Kau harus tau bahwa perasaan harus dikalahkan oleh logika dan kenyataan. Perasaan tak selalu harus dijunjung tinggi dan diperhatikan.

Jikapun segenap usahamu telah kau kerahkan, namun tak juga kau berhasil melupakannya, maka silakan nikmati perasaan itu, tanpa harus berkeinginan memilikinya lagi. Kau juga paling tau bahwa hakikatnya mencintai bukan berarti harus memiliki. Karena jika kau saja yang ingin, selamanya kalian berdua tidak akan bersama. Ibaratnya, kau menepuk sebelah tanganmu, sampai kapanpun tak kan pernah kau hasilkan bunyi. Yang harus kau lakukan hanyalah berusaha mengerti, bahwa kau dan dia tidak bisa bersama karena tak punya rasa yang sama. Bahwa dua orang yang bersama haruslah memiliki perasaan yang sama. Dalam kasus ini, hanya kau yang punya rasa. Hanya dirimu yang ingin bersama. Sedangkan dia tidak. Lalu adilkah ini baginya? Kau harus paham. Jika kau saja berhak berjuang mendapatkan cintamu, maka bukankah dia juga berhak memperjuangkan cintanya? Yang harus kau terima adalah, cintanya bukanlah kamu. Maka, sekali lagi aku katakan, dewasalah. Dewasalah menyikapi perasaan sebelah pihak itu.

Memang benar, perasaan tidak bisa disalahkan. Perasaan bukanlah sesuatu yang bisa kau ciptakan dan kau ada-adakan. Dia muncul dengan sendirinya dari sudut hatimu secara perlahan. Namun kau bisa memilih, menjaganya untuk untuk tetap ada, atau berusaha melenyapkannya. Kau punya pilihan, bangkit lalu menatap masa depan, atau terus terbelenggu dengan perasaan yang tak lagi layak untuk kau pendam.

Tak perlu kau menangis. Usap air matamu. Lalu angkat dagumu, tatap lah kedepan. Nun jauh disana, seseorang yang lebih pantas akan datang menjemputmu, membawamu terbangun dari mimpi-mimpimu tentang cinta yang semu. Maka, hingga saat itu tiba, bersabarlah. Berdamailah dengan hatimu, karena seseorang itu akan membuatmu merasakan cinta yang sesungguhnya.

Rabu, 02 Januari 2019

Ibu Rumah Tangga

Hari-hariku kini terlalui dengan kebiasan-kebiasaan baru. Bangun pagi-pagi, belanja ke pasar, lalu pulang kerumah dengan membawa sekantong belanjaan, menyiang ikan, mengiris bawang, cabai, tomat dan segala macam jenis bumbu masakan. Aku akan dengan telaten memasak makanan untuk disantap sebagai sarapan, makan siang dan makan malam oleh abang-abang dan adikku.

Awalnya, aku membenci kebiasaan ini. Bagaimanapun, aku terlahir sebagai anak yg sedikit manja -menyentuh dapur dirumah adalah keajaiban buatku dimasa sekolah. Dulu ketika aku masih tinggal dengan mamak, beliau akan senang hati memasak sendiri setiap hari tanpa harus melibatkan aku yang tidak bisa apa-apa (setidaknya menurutnya begitu). Aku menjalani waktu remajaku dengan banyak bermain.

Ketika mulai masuk kuliah, aku tinggal sendiri -dengan beberapa orang teman dengan menyewa sebuah kos-kosan dilingkungan sekitar kampus. Kesibukan kuliah dan berorganisasi membuatku hampir tidak pernah menyentuh dapur. Aku hanya memasak ketika waktu senggang dan itu hampir tidak terjadi dalam satu bulan satu kali.

Diakhir masa kuliahku, adikku mulai memasuki bangku kuliah juga. Dia diterima diperguruan tinggi yang sama sepertiku. Dan karena abangku memilih untuk menetap dan bekerja di Banda Aceh juga, hal itu membuat kami memutuskan untuk menyewa rumah dan tinggal bersama. Aku bukan lagi anak kos-kosan tetapi ibu rumah tangga buat mereka.

Memang tidak ada yg memaksaku untuk melakukan pekerjaan rumah sebanyak itu, tapi naluriku sebagai satu-satunya perempuan dirumah ini, membuatku melakukan hal demikian. Aku tetap melakukannya walaupun tidak suka. Waktu mainku jadi berkurang. Aku harus lebih sering dirumah ketimbang diluar. Aku frustasi.

Setelah wisuda, aku memutuskan untuk pulang kampung selama kurang lebih sebulan, untuk menenangkan pikiran dan memikirkan apa hal selanjutnya yg harus aku lakukan.

Aku pikir, kembali kekampung adalah pilihan yg tepat disaat kepala penat. Aku tidak ingin direcoki dengan kegiatan yg menguras energiku terlalu banyak. Dua hari pertama aku menikmati liburanku. Hari ketiga, keempat, dan seterusnya membuatku kebosanan. Aku tidak punya pekerjaan. Dan mamak tidak membiarkanku melakukan pekerjaan rumah.

Aku menjalani hari-hariku dengan hanya makan, tidur dan mandi. Sekali-sekali menonton tv, kadang-kadang pasrah saja saat mamak memilihkan siaran sinetron. Aku hampir mati kebosananan. Namun siapa sangka, hal inilah yang kemudian membuatku sadar bahwa selama ini aku terlalu banyak mengeluh. Diberi pekerjaan aku ingin istirahat, dikasih istirahat aku ingin melakukan kegiatan. Aku memang payah.

Tidak ingin lebih lama lagi dalam kesalahan yang sama, aku minta izin orangtua untuk kembali ke Banda Aceh. Menemani adik dan abang-abangku dirumah sewa yang kecil ini. Memasak untuk mereka, mencuci piring dan berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya. Tapi kali ini, aku tidak lagi terpaksa. Aku melakukannya dengan senang hati. Akupun mulai mengurangi kegiatan diluar rumah yang kurang bermanfaat. Dan lambat laun, aku mulai menyenangi kebiasaan baruku. Menjadi ibu rumah tangga, untuk saudara-saudaraku.

Kalau ditanya apakah aku bahagia, of course aku bahagia. Bahagia bukanlah tentang semewah dan sekeren apa kegiatan yang kita lakukan, tapi tentang bersyukur dan membuat diri menjadi bermanfaat untuk orang banyak, terutama keluarga sendiri.

Awal tahun 2019, Banda Aceh.
Mira Alfira

Sabtu, 23 Juni 2018

MENIKAH, AJANG PAMERKAH?

“Kenapa belum nikah?”
Sebuah pertanyaan yang kerap dilontarkan saat ini. Ini adalah bulan syawal. Bulan syawal terkenal sebagai bulan menikah karena banyaknya orang yang menikah pada bulan itu. Tahun ini banyak teman-teman sebayaku yang memilih untuk mengakhiri masa lajangnya. Tidak heran mengingat usia mereka sudah menginjak angka 22 tahun.

Bagi orang yang ingin menikah, bulan syawal merupakan bulan bahagia. Namun, bulan syawal ini adalah bencana bagi orang-orang yang belum ingin menikah namun terus dihantui pertanyaan “kapan menikah” oleh keluarga dan orang-orang disekelilingnya.

Tidak jarang di acara pertemuan keluarga atau berkunjung kerumah guru SMA, selain pertanyaan “kapan selesai kuliah”, pertanyaan “Kapan menikah” adalah favorit para orang tua. Dan kita, sebagai objek yang ditanyai, sudah panas kuping mendengarnya. 

Aku tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang kampung, yang masih sangat primitif. Mereka berpikir bahwa seorang perempuan sehabis kuliah tidak punya pilihan hidup selain menikah. Padahal, banyak sekali cita-cita yang harusnya tercapai, impian yang harusnya tergapai, dan mimpi yang harusnya terwujud sebelum seseorang perempuan memutuskan untuk menikah.

Aku tidak mengatakan bahwa menikah  menghalangi seorang perempuan untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, namun dapatkah teman-teman bayangkan, ketika kita memilih untuk menjadi istri orang, bukankah semua pergerakan kita harus sesuai dengan izin suami?

Kita sebagai orang islam tentu paham, bahwa “surga istri terletak pada telapak kaki suami” yang artinya kita harus patuh dan taat pada apapun perkataan sang suami. 

Lalu, setelah menikah apa?
Apa yang sudah kita siapkan untuk membentuk keluarga?
umur yang cukup, tidak menjadi patokan.
siap umur, belum tentu siap jiwanya.
belum tentu siap emosinya.
Banyak orang yang berbakat tapi berakhir menjadi ibu rumah tangga biasa. Bekerja dibalik dapur, mengurus anak dan suami. Semua cita-cita yang dipendamnya harus tetap terpendam tanpa mampu diwujudkan, hancur seketika hanya karena suami tak memberinya izin bekerja.

Tulisan ini ada, bukan berarti aku mengharamkan seorang perempuan menjadi Ibu rumah tangga. Akupun tau dalam agama Islam menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah tugas mulia. 

Tapi, Aku hanya bersikap realistis. 

Dewasa ini, dunia tak lagi sama. Tidak semua laki-laki giat bekerja. Tidak semua laki-laki setelah menikah mampu membahagiakan istrinya. Tidak semua laki-laki mampu memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak-anaknya.

Lalu, jika kita, perempuan ini buta, tidak tau menahu akan dunia kerja, apa yang terjadi dengan keluarga yang sudah dibangun?

Banyak temanku yang berakhir menjadi janda karena tak mampu mempertahankan rumahtangganya. Masih muda, tapi sudah janda, miris sekali.

Banyak juga mereka yang tidak pikir dua kali untuk menikah, setelah menikah harus banting tulang disawah menafkahi keluarganya karena suaminya malas bekerja.

Tak sedikit yang akhirnya bercerai, karena masih belum cukup matang pemikirannya dalam mempertahankan rumah tangganya.

Ada juga Ibu muda yang melarikan diri dari rumah, meninggalkan anak dan suaminya berdua saja karena tidak mau diurus lagi.

Tak heran banyak kasus menyedihkan seperti itu, karena keputusan untuk menikah, tidak dipikir secara dewasa.

Mereka berpikir menikah adalah sebuah lomba.
Dimana jika anak tetangga sudah menikah berarti anakku harus cepat menikah juga.

Mereka pikir menikah adalah sebuah persaingan.
Dimana siapa yang paling cepat menikah berarti dia yang paling laku.

Mereka pikir menikah adalah sebuah ajang pamer.
Dimana siapa yang paling banyak maharnya dialah yang paling keren.

I don’t think so.
Menikah, lebih dari itu bagiku.
Menikah adalah sebuah fase perubahan hidup dari sendiri menjadi berdua, lalu menjadi tiga dan terbentuklah sebuah keluarga. 

Menikah adalah sebuah proses pematangan emosi, dimana keegoisan tidak lagi merajai. Menikah berarti akan hidup dengan orang yang samasekali asing, lalu membiasakan diri untuk tidak asing dan menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita.

Menikah berarti harus rela membagi apapun yang kita punya dengan dia.

Menikah tidak melulu tentang kebahagiaan, tapi juga derita yang akan terjadi setelah kita membentuk bingkai rumah tangga.

Bagiku, memutuskan untuk menikah adalah sebuah keputusan besar. Dan tanpa pikiran yang matang, aku tidak akan mampu memutuskan itu.

Senin, 04 Juni 2018

Maaf, karena saya menaruh rasa padamu

Saya rindu sekali dengan kamu.
Saya ingin sekali bertemu denganmu.
Saya ingin sekali berbicara denganmu.
Saya ingin sekali ungkapkan, bahwa saya.. saya cinta sama kamu.

Saya sudah pendam rasa ini hampir satu tahun yang lalu, tak pernah saya berani katakan, karena saya takut kamu memilih pergi dan tidak mau melihat saya lagi.

Saya sering mencoba melupakan perasaan saya, tapi semakin saya coba semakin saya jatuh dalam lubang yang sama, saya jatuh cinta lagi, lagi dan lagi sama kamu.

Sering saya coba, mencari tau segalanya tentang kamu. Dari media sosialmu, tak banyak yang saya temukan, karena ternyata kamu orang yg tidak terlalu suka publikasi tentang kehidupanmu.

Tapi, tunggu.. di akun facebookmu, saya menemukan sebuah foto. Sebuah fotomu yang tersenyum manis menatap seorang gadis... Dug..jantung saya saat itu nyaris tak berdetak. Tapi, kemudian saya sadar foto itu sudah sangat lama. Terdapat keterangan waktu didalamnya.

Saya sudah lupa kapan persisnya, yang saya ingat foto itu sekitar 3 tahun yang lalu. Artinya..saya masih ada harapan. Mungkin saja itu bukan siapa siapa kamu lagi. Mungkin saja itu hanya mantan pacarmu dan sekarang dia sudah tidak berarti lagi.

Saya menghembuskan nafas lega. Hanya beberapa menit saja.

Namun pikiran saya tidak berhenti berpikir, saya  masih penasaran dengan gadis itu. Lalu saya klik kursor persis di wajahnya, saya temukan profil dia. Saya coba menyusuri linimasanya.

Dan, untuk kedua kalinya, jantung saya berhenti untuk beberapa detik, menyadari beberapa waktu yg lalu, belum lama dari saat saya melihat linimasa itu, terpampang jelas gambar gambar mesra kalian berdua. Bukan, bukan foto lama. Foto itu baru.

Sadarlah saya, bahwa kamu memang sudah ada yg punya. Detik itu juga, saya paksa diri saya untuk terima kenyataan, saya paksa diri saya untuk lupakan segenap perasaan.

Saya berdiam diri untuk beberapa bulan.
Saya coba nikmati hidup saya tanpa melihat keseharianmu di media sosial seperti yg biasa saya lakukan.

Tapi, kenapa malah kamu yang melihat keseharian saya. Kenapa malah kamu yang suka komentar status dan foto-foto yang saya bagikan dilinimasa saya. Saya terjebak lagi dalam percakapan denganmu, yg awalnya hanya basa basi saja, namun seiring waktu menjadi intens.

Saya salah apa? Kamu yang membuka ruang itu. Saya tdk berniat mengganggu kamu, tapi kamu beri saya harapan dengan terus memberi perhatian-perhatian kecil sama saya.
Betapa jahatnya kamu, sudah punya pacar tapi kok memperhatikan saya sebegitunya. Salah, kalau saya menikmati itu?

Daaaan.. hati saya sakit saat berhari-hari lamanya kamu tak beri saya kabar, tapi saya tidak berhak marah, karna sebenarnya, tak ada hubungan apa apa diantara kita.

Hanya saya saja yg menyukaimu.
Hanya saya saja yg mengagumimu.
Hanya saya saja yg berharap untuk bisa bersamamu sepanjang waktu.
Maafkan saya, atas rasa yang saya punya.

Saya tak kan ganggu kamu, pun hubunganmu dengannya.

Senin, 26 Februari 2018

Lihatlah, Aku Akan Wisuda Tahun Ini



            Jika saja aku tau begini akhirnya, aku tak akan menyia-nyiakan waktu satu semester yang lalu. Aku akan bergerak cepat, melupakan keinginanku untuk bersantai dan membunuh kemalasan yang hinggap setiap saat. Aku akan mencari dosen pembimbing dan referensi sebanyak – banyaknya untuk kupelajari di masa libur. Aku akan rajin membaca jurnal dan buku – buku setiap pagi dan malam hari supaya bisa menulis BAB 1 dan BAB 2 serta BAB 3 secepatnya agar aku bisa naik seminar proposal. Aku akan memakai baju putih dan jilbab putih serta rok hitam lalu berfoto dengan dosen pembimbing dan dosen penguji disebelahku. Tak lupa aku akan mengunggahnya ke instagramku dengan caption “Alhamdulillah, one step closer”. Aku akan ditonton dan diberikan semangat oleh teman – temanku. Akan banyak teman – teman mengirimkan chat untuk sekedar memberikan ucapan “selamat ya, udah sempro. Semoga cepat naik hasil”. Atau yang usil akan memberi komentar “ciee… semakin dekat ke wisuda nih. Semoga juga makin deket sama jodoh”. Dan berbagai komentar lainnya yang tentunya akan membakar semangatku untuk terus menulis skripsi. 

            Namun sayangnya, aku melupakan itu semua satu semester yang lalu. Aku melupakan betapa menyenangkannya jika aku bisa lulus tepat waktu. Betapa bahagianya bisa membuat orangtua lega sudah berhasil menguliahkan satu – satunya anak perempuannya menjadi seorang sarjana di waktu yang singkat. Betapa aku akan menjadi motivasi bagi teman – temanku agar mereka cepat lulus juga. Sayangnya, aku tidak lakukan itu. Satu semester lalu, aku dibutakan kemalasan dan ketidakpedulian. Aku pikir menulis skripsi tidak akan terlalu lama. Aku pikir satu semester saja cukup untuk menyelesaikan seminar proposal, seminar hasil, revisi, sidang lalu wisuda. Tuhan, betapa bodohnya aku waktu itu. Baru sekarang aku sadar, itu semua tidak akan terjadi dalam waktu singkat dengan kemampuan otakku yang nyaris biasa saja. Untuk memahami satu jurnal saja aku butuh waktu paling singkat satu minggu. Untuk mencari motivasi saja aku harus menunggu teman – temanku naik seminar dulu. Ditambah dengan sistem di Jurusan Matematika yang sekarang tidak sama. Jika dulu bisa mendaftar seminar kapan saja, lalu naik seminggu setelah mendaftar, sekarang malah ditentukan jadwal mendaftar, yaitu pada tanggal 8-21 setiap bulannya. Kita baru bisa naik sebulan setelah mendaftar. 

            Jika aku mulai menulis sekarang, bisa saja butuh waktu paling singkat satu bulan lagi untuk menyelesaikan tiga bab itu. Ini sudah akhir februari. Kalaupun selesai 3 bab tersebut pada akhir maret nanti, aku baru bisa daftar seminar dibulan april. Itu artinya aku baru bisa naik seminar di bulan Mei. Belum lagi hasil, belum lagi revisi, ditambah dengan kesibukanku dan tanggung jawab yang masih melekat di dewan kerja. Aku bahkan tidak yakin akan wisuda di bulan Agustus nanti. 

            Andai saja aku mulai lebih awal, aku mungkin sudah berada jauh sekarang. Bisa saja aku sudah naik seminar proposal. Atau mungkin, aku sedang mengerjakan hasil. Sekali lagi, sayangnya, itu hanya pengandaianku saja. Aku menyesal. Aku menyesal ? Iya. AKU. MENYESAL.

            Tapi, percayalah teman – temanku. Betapapun aku menyesali itu, tidak sedikitpun hal itu menyulut semangatku untuk tetap berusaha. Aku tau itu terjadi karena egoku. Itu terjadi karena kemalasanku. Itu pilihanku. Dan kini, aku siap dengan resikonya. Entahlah. Intinya, aku tetap berusaha. Tidak ada kata terlambat bagiku. Aku akan mulai menulis sekarang, dan akan aku selesaikan secepatnya. 

            Mamak, Ayah, Abang, teman – teman, lihatlah. Aku akan wisuda tahun ini. Aku akan pakai toga itu. Aku akan pegang map hitam dengan logo Unsyiah di depannya. Mamak, jangan lupa siapkan aku kebaya yang cantik. Belikan aku sepatu high heels yang mewah. Ayah, secuek apapun ayah, aku tau Ayah paling sayang dengan anak perempuan ayah satu – satunya. Ayah akan datang menghadiri undangan wisudaku, nanti. Abang, jangan lupa kasih papan bunga dengan tulisan “Selamat atas wisuda adikku, Mira Alfira S.Mat.” Kita akan berfoto lalu akan kubingkai foto itu dan aku pasang ditengah – tengah ruang tamu rumah kita. Teman – temanku, jangan lupa datang, akan ku traktir kalian semua, pakai uang orangtuaku tentunya (kalau punya duit sendiri, gak minta ke orangtua deh, hehe).

            Untuk itu, hingga saatnya tiba, doakan aku. Dengan segala keterbatasanku, aku ingin menyelesaikan skripsiku, segera.