Sabtu, 23 Juni 2018

MENIKAH, AJANG PAMERKAH?

“Kenapa belum nikah?”
Sebuah pertanyaan yang kerap dilontarkan saat ini. Ini adalah bulan syawal. Bulan syawal terkenal sebagai bulan menikah karena banyaknya orang yang menikah pada bulan itu. Tahun ini banyak teman-teman sebayaku yang memilih untuk mengakhiri masa lajangnya. Tidak heran mengingat usia mereka sudah menginjak angka 22 tahun.

Bagi orang yang ingin menikah, bulan syawal merupakan bulan bahagia. Namun, bulan syawal ini adalah bencana bagi orang-orang yang belum ingin menikah namun terus dihantui pertanyaan “kapan menikah” oleh keluarga dan orang-orang disekelilingnya.

Tidak jarang di acara pertemuan keluarga atau berkunjung kerumah guru SMA, selain pertanyaan “kapan selesai kuliah”, pertanyaan “Kapan menikah” adalah favorit para orang tua. Dan kita, sebagai objek yang ditanyai, sudah panas kuping mendengarnya. 

Aku tidak habis pikir dengan pemikiran orang-orang kampung, yang masih sangat primitif. Mereka berpikir bahwa seorang perempuan sehabis kuliah tidak punya pilihan hidup selain menikah. Padahal, banyak sekali cita-cita yang harusnya tercapai, impian yang harusnya tergapai, dan mimpi yang harusnya terwujud sebelum seseorang perempuan memutuskan untuk menikah.

Aku tidak mengatakan bahwa menikah  menghalangi seorang perempuan untuk mewujudkan mimpi dan cita-citanya, namun dapatkah teman-teman bayangkan, ketika kita memilih untuk menjadi istri orang, bukankah semua pergerakan kita harus sesuai dengan izin suami?

Kita sebagai orang islam tentu paham, bahwa “surga istri terletak pada telapak kaki suami” yang artinya kita harus patuh dan taat pada apapun perkataan sang suami. 

Lalu, setelah menikah apa?
Apa yang sudah kita siapkan untuk membentuk keluarga?
umur yang cukup, tidak menjadi patokan.
siap umur, belum tentu siap jiwanya.
belum tentu siap emosinya.
Banyak orang yang berbakat tapi berakhir menjadi ibu rumah tangga biasa. Bekerja dibalik dapur, mengurus anak dan suami. Semua cita-cita yang dipendamnya harus tetap terpendam tanpa mampu diwujudkan, hancur seketika hanya karena suami tak memberinya izin bekerja.

Tulisan ini ada, bukan berarti aku mengharamkan seorang perempuan menjadi Ibu rumah tangga. Akupun tau dalam agama Islam menjadi Ibu rumah tangga adalah sebuah tugas mulia. 

Tapi, Aku hanya bersikap realistis. 

Dewasa ini, dunia tak lagi sama. Tidak semua laki-laki giat bekerja. Tidak semua laki-laki setelah menikah mampu membahagiakan istrinya. Tidak semua laki-laki mampu memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan anak-anaknya.

Lalu, jika kita, perempuan ini buta, tidak tau menahu akan dunia kerja, apa yang terjadi dengan keluarga yang sudah dibangun?

Banyak temanku yang berakhir menjadi janda karena tak mampu mempertahankan rumahtangganya. Masih muda, tapi sudah janda, miris sekali.

Banyak juga mereka yang tidak pikir dua kali untuk menikah, setelah menikah harus banting tulang disawah menafkahi keluarganya karena suaminya malas bekerja.

Tak sedikit yang akhirnya bercerai, karena masih belum cukup matang pemikirannya dalam mempertahankan rumah tangganya.

Ada juga Ibu muda yang melarikan diri dari rumah, meninggalkan anak dan suaminya berdua saja karena tidak mau diurus lagi.

Tak heran banyak kasus menyedihkan seperti itu, karena keputusan untuk menikah, tidak dipikir secara dewasa.

Mereka berpikir menikah adalah sebuah lomba.
Dimana jika anak tetangga sudah menikah berarti anakku harus cepat menikah juga.

Mereka pikir menikah adalah sebuah persaingan.
Dimana siapa yang paling cepat menikah berarti dia yang paling laku.

Mereka pikir menikah adalah sebuah ajang pamer.
Dimana siapa yang paling banyak maharnya dialah yang paling keren.

I don’t think so.
Menikah, lebih dari itu bagiku.
Menikah adalah sebuah fase perubahan hidup dari sendiri menjadi berdua, lalu menjadi tiga dan terbentuklah sebuah keluarga. 

Menikah adalah sebuah proses pematangan emosi, dimana keegoisan tidak lagi merajai. Menikah berarti akan hidup dengan orang yang samasekali asing, lalu membiasakan diri untuk tidak asing dan menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita.

Menikah berarti harus rela membagi apapun yang kita punya dengan dia.

Menikah tidak melulu tentang kebahagiaan, tapi juga derita yang akan terjadi setelah kita membentuk bingkai rumah tangga.

Bagiku, memutuskan untuk menikah adalah sebuah keputusan besar. Dan tanpa pikiran yang matang, aku tidak akan mampu memutuskan itu.

Senin, 04 Juni 2018

Maaf, karena saya menaruh rasa padamu

Saya rindu sekali dengan kamu.
Saya ingin sekali bertemu denganmu.
Saya ingin sekali berbicara denganmu.
Saya ingin sekali ungkapkan, bahwa saya.. saya cinta sama kamu.

Saya sudah pendam rasa ini hampir satu tahun yang lalu, tak pernah saya berani katakan, karena saya takut kamu memilih pergi dan tidak mau melihat saya lagi.

Saya sering mencoba melupakan perasaan saya, tapi semakin saya coba semakin saya jatuh dalam lubang yang sama, saya jatuh cinta lagi, lagi dan lagi sama kamu.

Sering saya coba, mencari tau segalanya tentang kamu. Dari media sosialmu, tak banyak yang saya temukan, karena ternyata kamu orang yg tidak terlalu suka publikasi tentang kehidupanmu.

Tapi, tunggu.. di akun facebookmu, saya menemukan sebuah foto. Sebuah fotomu yang tersenyum manis menatap seorang gadis... Dug..jantung saya saat itu nyaris tak berdetak. Tapi, kemudian saya sadar foto itu sudah sangat lama. Terdapat keterangan waktu didalamnya.

Saya sudah lupa kapan persisnya, yang saya ingat foto itu sekitar 3 tahun yang lalu. Artinya..saya masih ada harapan. Mungkin saja itu bukan siapa siapa kamu lagi. Mungkin saja itu hanya mantan pacarmu dan sekarang dia sudah tidak berarti lagi.

Saya menghembuskan nafas lega. Hanya beberapa menit saja.

Namun pikiran saya tidak berhenti berpikir, saya  masih penasaran dengan gadis itu. Lalu saya klik kursor persis di wajahnya, saya temukan profil dia. Saya coba menyusuri linimasanya.

Dan, untuk kedua kalinya, jantung saya berhenti untuk beberapa detik, menyadari beberapa waktu yg lalu, belum lama dari saat saya melihat linimasa itu, terpampang jelas gambar gambar mesra kalian berdua. Bukan, bukan foto lama. Foto itu baru.

Sadarlah saya, bahwa kamu memang sudah ada yg punya. Detik itu juga, saya paksa diri saya untuk terima kenyataan, saya paksa diri saya untuk lupakan segenap perasaan.

Saya berdiam diri untuk beberapa bulan.
Saya coba nikmati hidup saya tanpa melihat keseharianmu di media sosial seperti yg biasa saya lakukan.

Tapi, kenapa malah kamu yang melihat keseharian saya. Kenapa malah kamu yang suka komentar status dan foto-foto yang saya bagikan dilinimasa saya. Saya terjebak lagi dalam percakapan denganmu, yg awalnya hanya basa basi saja, namun seiring waktu menjadi intens.

Saya salah apa? Kamu yang membuka ruang itu. Saya tdk berniat mengganggu kamu, tapi kamu beri saya harapan dengan terus memberi perhatian-perhatian kecil sama saya.
Betapa jahatnya kamu, sudah punya pacar tapi kok memperhatikan saya sebegitunya. Salah, kalau saya menikmati itu?

Daaaan.. hati saya sakit saat berhari-hari lamanya kamu tak beri saya kabar, tapi saya tidak berhak marah, karna sebenarnya, tak ada hubungan apa apa diantara kita.

Hanya saya saja yg menyukaimu.
Hanya saya saja yg mengagumimu.
Hanya saya saja yg berharap untuk bisa bersamamu sepanjang waktu.
Maafkan saya, atas rasa yang saya punya.

Saya tak kan ganggu kamu, pun hubunganmu dengannya.

Senin, 26 Februari 2018

Lihatlah, Aku Akan Wisuda Tahun Ini



            Jika saja aku tau begini akhirnya, aku tak akan menyia-nyiakan waktu satu semester yang lalu. Aku akan bergerak cepat, melupakan keinginanku untuk bersantai dan membunuh kemalasan yang hinggap setiap saat. Aku akan mencari dosen pembimbing dan referensi sebanyak – banyaknya untuk kupelajari di masa libur. Aku akan rajin membaca jurnal dan buku – buku setiap pagi dan malam hari supaya bisa menulis BAB 1 dan BAB 2 serta BAB 3 secepatnya agar aku bisa naik seminar proposal. Aku akan memakai baju putih dan jilbab putih serta rok hitam lalu berfoto dengan dosen pembimbing dan dosen penguji disebelahku. Tak lupa aku akan mengunggahnya ke instagramku dengan caption “Alhamdulillah, one step closer”. Aku akan ditonton dan diberikan semangat oleh teman – temanku. Akan banyak teman – teman mengirimkan chat untuk sekedar memberikan ucapan “selamat ya, udah sempro. Semoga cepat naik hasil”. Atau yang usil akan memberi komentar “ciee… semakin dekat ke wisuda nih. Semoga juga makin deket sama jodoh”. Dan berbagai komentar lainnya yang tentunya akan membakar semangatku untuk terus menulis skripsi. 

            Namun sayangnya, aku melupakan itu semua satu semester yang lalu. Aku melupakan betapa menyenangkannya jika aku bisa lulus tepat waktu. Betapa bahagianya bisa membuat orangtua lega sudah berhasil menguliahkan satu – satunya anak perempuannya menjadi seorang sarjana di waktu yang singkat. Betapa aku akan menjadi motivasi bagi teman – temanku agar mereka cepat lulus juga. Sayangnya, aku tidak lakukan itu. Satu semester lalu, aku dibutakan kemalasan dan ketidakpedulian. Aku pikir menulis skripsi tidak akan terlalu lama. Aku pikir satu semester saja cukup untuk menyelesaikan seminar proposal, seminar hasil, revisi, sidang lalu wisuda. Tuhan, betapa bodohnya aku waktu itu. Baru sekarang aku sadar, itu semua tidak akan terjadi dalam waktu singkat dengan kemampuan otakku yang nyaris biasa saja. Untuk memahami satu jurnal saja aku butuh waktu paling singkat satu minggu. Untuk mencari motivasi saja aku harus menunggu teman – temanku naik seminar dulu. Ditambah dengan sistem di Jurusan Matematika yang sekarang tidak sama. Jika dulu bisa mendaftar seminar kapan saja, lalu naik seminggu setelah mendaftar, sekarang malah ditentukan jadwal mendaftar, yaitu pada tanggal 8-21 setiap bulannya. Kita baru bisa naik sebulan setelah mendaftar. 

            Jika aku mulai menulis sekarang, bisa saja butuh waktu paling singkat satu bulan lagi untuk menyelesaikan tiga bab itu. Ini sudah akhir februari. Kalaupun selesai 3 bab tersebut pada akhir maret nanti, aku baru bisa daftar seminar dibulan april. Itu artinya aku baru bisa naik seminar di bulan Mei. Belum lagi hasil, belum lagi revisi, ditambah dengan kesibukanku dan tanggung jawab yang masih melekat di dewan kerja. Aku bahkan tidak yakin akan wisuda di bulan Agustus nanti. 

            Andai saja aku mulai lebih awal, aku mungkin sudah berada jauh sekarang. Bisa saja aku sudah naik seminar proposal. Atau mungkin, aku sedang mengerjakan hasil. Sekali lagi, sayangnya, itu hanya pengandaianku saja. Aku menyesal. Aku menyesal ? Iya. AKU. MENYESAL.

            Tapi, percayalah teman – temanku. Betapapun aku menyesali itu, tidak sedikitpun hal itu menyulut semangatku untuk tetap berusaha. Aku tau itu terjadi karena egoku. Itu terjadi karena kemalasanku. Itu pilihanku. Dan kini, aku siap dengan resikonya. Entahlah. Intinya, aku tetap berusaha. Tidak ada kata terlambat bagiku. Aku akan mulai menulis sekarang, dan akan aku selesaikan secepatnya. 

            Mamak, Ayah, Abang, teman – teman, lihatlah. Aku akan wisuda tahun ini. Aku akan pakai toga itu. Aku akan pegang map hitam dengan logo Unsyiah di depannya. Mamak, jangan lupa siapkan aku kebaya yang cantik. Belikan aku sepatu high heels yang mewah. Ayah, secuek apapun ayah, aku tau Ayah paling sayang dengan anak perempuan ayah satu – satunya. Ayah akan datang menghadiri undangan wisudaku, nanti. Abang, jangan lupa kasih papan bunga dengan tulisan “Selamat atas wisuda adikku, Mira Alfira S.Mat.” Kita akan berfoto lalu akan kubingkai foto itu dan aku pasang ditengah – tengah ruang tamu rumah kita. Teman – temanku, jangan lupa datang, akan ku traktir kalian semua, pakai uang orangtuaku tentunya (kalau punya duit sendiri, gak minta ke orangtua deh, hehe).

            Untuk itu, hingga saatnya tiba, doakan aku. Dengan segala keterbatasanku, aku ingin menyelesaikan skripsiku, segera.

Selasa, 20 Februari 2018

Teruntuk Mahasiswa Akhir



Skripsi adalah salah satu syarat untuk mahasiswa agar mendapat gelar sarjana. Untuk menulis skripsi, tentu banyak ilmu pengetahuan yang harus dimiliki mahasiswa. Menulis skripsi sama saja dengan menulis buku. Sebuah buku ditulis jika ada penulis dan ada pengetahuan. Untuk dapat pengetahuan tentu saja kita harus banyak membaca agar kemudian bisa dituangkan kedalam buku yang akan kita tulis.  Untuk itu, jangan terlalu takut tidak bisa menulis skripsi. Mulailah dengan membaca. Jika kamu merasa malas, mulai lah kebiasaan baik dengan bangun lebih pagi, berolahrga, datang ke kampus walaupun tidak ada yang akan kamu kerjakan. Karena dikampus kamu akan melihat teman – temanmu menulis skripsi. Kamu akan melihat teman – temanmu mencari jurnal, menjumpai dosen pembimbing, berlomba – lomba mendaftarkan seminar. Dengan begitu, kamu akan terinspirasi untuk menulis skripsimu, seperti teman – temanmu. 

Bagi kamu yang terlambat sadar, setelah bermain sekian lama, tak usah kamu sesali. Biarlah waktu yang lalu menjadi pelajaran untukmu. Biarlah waktu yang lalu menjadi liburan yang menyenangkan. Sekarang, tiba waktunya untuk menjadi lebih serius, hadapi satu langkah lagi untuk meraih gelar sarjana yang kau damba – dambakan. Tidak ada kata terlambat. Mulailah dari sekarang.
Jika kamu sudah memulai dan merasa tidak mampu atau topikmu terlalu susah, percayalah bahwa kau mampu jika terus berusaha untuk mengerti. Jangan merasa topik orang lain lebih mudah darimu. Mereka bisa karena mereka sudah berusaha, dan mungkin saja mereka menghabiskan waktunya hanya untuk menekuk diri didepan laptop dan kertas – kertas yang menumpuk sampai melupakan jam tidur mereka. Mereka telah berkorban untuk itu dan orang lain tidak tau itu. Satu hal yang harus terpatri diotakmu adalah, “jika orang lain bisa, mengapa kamu tidak?”. 

Teruntuk mahasiswa akhir, terus tanamkan optimis dalam jiwamu, jangan biarkan kemalasan terus menguasai diri sehingga menggagalkan semua impianmu dimasa depan.

Minggu, 11 Februari 2018

Menolak Lupa

Lihatlah saat ini, ketika teman se-kontrakan tengah sibuk nobar drama korea, aku malah memilih menyendiri dikamar ini. Menutup pintu serapat mungkin, lalu menguncinya, agar tak satupun bisa masuk lalu menggangu kesendirianku. Aku memang sedang tak ingin di ganggu. Aku ingin sendirian. Melepaskan semua beban yang sudah tak sanggup kupikul lagi. Aku lelah, sangat lelah. Aku berfikir dengan menangis aku akan merasa lega walau aku tau pada kenyataannya itu tak merubah apapun.

Pikiranku masih saja membayangkan kejadian tempo hari, saat aku melihat kekasihku –mantan kekasihku, berdiri berhadapan dengan kekasihnya. Dari kejauhan aku dapat menangkap binar – binar bahagia dari wajahnya. Mereka tidak malu – malu mengubar kemesraan di depan umum. Dan lagi, walau dengan jarak sejauh itu, kedua telingaku masih mampu mendengar dia memanggil kekasihnya dengan sebutan ‘sayang’. Sebutan yang dulu adalah milikku. Sebutan yang kerap dia sebutkan ketika pagi hari aku terbangun dari tidurku. Namun kini, dengan telingaku sendiri, aku mendengar sebutan itu dia tujukan untuk orang lain. Seketika hatiku hancur, kakiku lemas seakan tak kuat lagi menahan tubuhku. Lagi, pertahananku runtuh.

Saat itu, kami sedang berada pada suatu pertunjukkan sebuah organisasi. Aku turut hadir bersama teman – temanku. Aku tau dia juga datang ke pertunjukan. Karena kami berasal dari organisasi yang sama. Tapi, aku samasekali tak menyangka bahwa kekasihnya juga akan terlihat di pertunjukkan itu.
Aku berlari sejauh mungkin dari tempat itu, tetap bertahan disana hanya akan membuat hatiku semakin kacau. Dengan langkah tergesa, aku berbalik dan berlari tak tentu arah. Ketika sampai disuatu tempat yang menurutku sepi, air mata yang sedari tadi ku tahan tumpah seketika. Aku menangis tanpa suara, takut – takut ada yang mendengar. Aku benar – benar terisak, sampai tak menyadari kehadiran seorang gadis mengenakan gamis merah muda di belakangku. Dengan lembut, dia mengusap punggungku dengan tangannya, menenangkanku. Gadis itu, sekalipun tak aku jelaskan, dia mengerti apa yang terjadi. Dia kemudian maju mendekat, duduk disebelah kiriku.
“Nangis aja Ryn. Gak apa – apa”, dia mengelus punggungku dengan tangannya.
Aku menghentikan tangisku. Menatap gadis itu. “Aku gak kuat Ra, rasanya sakit banget”, akuku.
“kamu kuat Ryn. Aku tau kamu cewek kuat. Tapi kamu aja yang gak menyadari itu”
“maksud kamu?”
“mau denger pendapat aku?”
Aku mengangguk.
“Aku ngerti ini sakit dan berat banget buat kamu. Aku tau perasaan kamu hancur ngeliat Van sama cewe barunya. Tapi Ryn, kamu gak punya pilihan selain nerima. Pakai pikiran kamu. Jangan selalu mendengarkan hati. kadang hati hanya hanyut oleh perasaan – perasaan yang membuat kamu menderita. Aku memang gak ngerasain apa yang kamu rasa. Tapi aku sahabat kamu Ryn. Aku ngerasain sakit ngeliat sahabat aku kayak gini terus”

Diam sejenak, Tara melanjutkan kalimatnya. “selama ini kamu berfikir bahwa kamu masih mencintai dia. tapi kamu baik – baik aja kan selama ini? kamu masih bisa jalanin hari – hari kamu dengan semangat walau kamu tau di luar sana, mantan pacar kamu itu menikmati hidup bersama perempuan lain”
“tapi kenapa aku runtuh sekarang Ra? Aku bahkan gak sanggup nahan sakit saat ngeliat dia mesra – mesraan sama cewek itu”
“Itu karena kamu berpikir bahwa kamu mencintai dia. padahal nggak Ryn. Kamu gak mencintai dia lagi. Kamu Cuma gak mau lupain dia. kamu masih berharap kalau suatu saat nanti kalian bakal sama – sama lagi. Tapi kamu lupa Ryn. Dia bukan Van yang dulu. Dia berubah menjadi lelaki jahat. Dia bukan Van-mu lagi”
Tara meneguk saliva, memperbaiki posisi duduknya.
“coba kamu pikir Ryn. Kalau memang Van masih sayang sama kamu, dia gak mungkin tega nyakitin kamu bertahun – tahun. Dia dengan senang hati menjalin hubungan dengan perempuan lain, sementara dia tau bahwa kamu masih menyimpan rasa terhadapnya. Apa yang kamu harapkan dari lelaki macam itu Ryn? Apapun alasannya, dia gak berhak untuk menyakiti kamu Ryn. Dia gak berhak.
“…”

Tidak ada yang keluar dari mulutku. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku. Mencerna kalimat panjang Tara.
Tara menatap lembut mataku, seolah memberi kekuatan.
“Lupain dia Ryn. Aku yakin kamu bisa”
“…”

Aku tak menyanggah. Hanya mendengarkan saja. Dalam hatiku, aku meyakini bahwa yang Tara katakan ada benarnya. Bertahun – tahun aku hanyut dalam perasaan sakit, cemburu dan putus asa. Aku terlalu banyak menggunakan hatiku. Pernah suatu hari aku merenung, lalu bertanya pada diriku sendiri “masihkah aku mencintainya?”, Bahkan ketika pikiranku bilang tidak, hatiku masih bertahan dengan jawaban ‘iya’.

Kalimat Tara sedikit banyak menyadarkanku. Selama ini aku memang baik – baik saja. Aku menjalani hidupku dengan penuh semangat. Aku hanya runtuh pada saat aku melihat Van. Itu karena aku menolak lupa, aku menolak untuk menyadari bahwa aku memang sudah tak lagi mencintainya.
                                                                        ¤¤¤

 Seringkali manusia seperti itu. Hanya karena cinta yang begitu besar pada masa lalunya, dia menganggap bahwa cinta itu tak mungkin hilang. Padahal –tanpa disadari, rasa itu perlahan memudar seiring waktu berjalan. Hingga tiba pada suatu titik dimana dia memang sudah melupakan, namun menolak untuk lupa.

Sabtu, 16 Desember 2017

Harus Merelakannya



"Aku pulang dulu kak”
Tanpa menunggu jawaban, aku bangkit berdiri dan bergegas keluar, meninggalkan ruang yang sedari tadi menyisakan sesak. Dia diam saja, tidak ada niat sedikitpun menahanku. Sepertinya, memang itu yang dia mau. Berat langkah kakiku, tapi kucoba terus melangkah. membelakanginya, menjauh darinya. 

Aku sudah sampai di palataran parkir, ketika dia berdiri di ambang pintu. "Hati – hati ya dek. Makasih oleh olehnya. Kakak suka”. hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulutnya, membuatku merasa bahwa keputusanku untuk pergi adalah keputusan yang tepat. Dan benar, dia memang tidak berniat menahanku, samasekali. Alih alih menjawab, aku menatapnya dengan pandangan datar. Tanpa menunggu lebih lama, aku masuk kemobilku lalu pergi. 

Tapi, ini adalah kali terakhir aku bicara dengannya tentang perasaanku. Dan ini belum selesai, pikirku. Menyingkirkan ego, aku menghentikan mobil, lalu keluar lagi. Aku menghampirinya yang masih di ambang pintu. "Kak, we need to talk" ujarku.

Satu jam lamanya kami bicara, dan akhirnya kami menemui titik permasalahannya. Disitulah aku mengerti. Aku terlalu bodoh pernah berpikir dia masih menyimpan rasa untukku. Terimakasih atas pengakuannya, aku telah menyadari bahwa selama ini ada perempuan lain yang menjadi pusat dunianya. Itulah mengapa dia tidak pernah kembali meski aku tau aku menunggu bertahun - tahun lamanya. Aku berharap terlalu banyak. Aku menghayal teralu tinggi. Hingga akhirnya aku terbunuh oleh imajinasi yang aku ciptakan sendiri. 

Sakit? Entahlah. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya sakit. Karena setiap hari aku merasakan itu. Menangis, jelas saja. Hanya itu yang bisa kulakukan agar merasa lega, walau sejenak saja. Tapi, aku tidak menangis karenanya. Aku tidak menyalahkannya. Aku menangis karena menyadari bahwa harapanku sudah hancur hari itu juga. Aku terbangun dari mimpiku. Ternyata aku hidup di dunia nyata. Tidak ada lagi senyumnya. Tidak ada lagi candaan garingnya namun selalu bisa buatku tertawa. Jikapun ada, itu semua bukan lagi milikku, tidak akan pernah lagi menjadi milikku. 

Akupun sadar, bukan salahnya atas rasa sakitku. Dia berhak mencintai siapapun yang dia mau. Aku sakit karena harapan dan yang bangun sendiri, dan kenyataannya harapan itu hancur, karena memang takdir membuatku harus berhenti. Aku, harus merelakannya. Selamanya.