Senin, 26 Februari 2018

Lihatlah, Aku Akan Wisuda Tahun Ini



            Jika saja aku tau begini akhirnya, aku tak akan menyia-nyiakan waktu satu semester yang lalu. Aku akan bergerak cepat, melupakan keinginanku untuk bersantai dan membunuh kemalasan yang hinggap setiap saat. Aku akan mencari dosen pembimbing dan referensi sebanyak – banyaknya untuk kupelajari di masa libur. Aku akan rajin membaca jurnal dan buku – buku setiap pagi dan malam hari supaya bisa menulis BAB 1 dan BAB 2 serta BAB 3 secepatnya agar aku bisa naik seminar proposal. Aku akan memakai baju putih dan jilbab putih serta rok hitam lalu berfoto dengan dosen pembimbing dan dosen penguji disebelahku. Tak lupa aku akan mengunggahnya ke instagramku dengan caption “Alhamdulillah, one step closer”. Aku akan ditonton dan diberikan semangat oleh teman – temanku. Akan banyak teman – teman mengirimkan chat untuk sekedar memberikan ucapan “selamat ya, udah sempro. Semoga cepat naik hasil”. Atau yang usil akan memberi komentar “ciee… semakin dekat ke wisuda nih. Semoga juga makin deket sama jodoh”. Dan berbagai komentar lainnya yang tentunya akan membakar semangatku untuk terus menulis skripsi. 

            Namun sayangnya, aku melupakan itu semua satu semester yang lalu. Aku melupakan betapa menyenangkannya jika aku bisa lulus tepat waktu. Betapa bahagianya bisa membuat orangtua lega sudah berhasil menguliahkan satu – satunya anak perempuannya menjadi seorang sarjana di waktu yang singkat. Betapa aku akan menjadi motivasi bagi teman – temanku agar mereka cepat lulus juga. Sayangnya, aku tidak lakukan itu. Satu semester lalu, aku dibutakan kemalasan dan ketidakpedulian. Aku pikir menulis skripsi tidak akan terlalu lama. Aku pikir satu semester saja cukup untuk menyelesaikan seminar proposal, seminar hasil, revisi, sidang lalu wisuda. Tuhan, betapa bodohnya aku waktu itu. Baru sekarang aku sadar, itu semua tidak akan terjadi dalam waktu singkat dengan kemampuan otakku yang nyaris biasa saja. Untuk memahami satu jurnal saja aku butuh waktu paling singkat satu minggu. Untuk mencari motivasi saja aku harus menunggu teman – temanku naik seminar dulu. Ditambah dengan sistem di Jurusan Matematika yang sekarang tidak sama. Jika dulu bisa mendaftar seminar kapan saja, lalu naik seminggu setelah mendaftar, sekarang malah ditentukan jadwal mendaftar, yaitu pada tanggal 8-21 setiap bulannya. Kita baru bisa naik sebulan setelah mendaftar. 

            Jika aku mulai menulis sekarang, bisa saja butuh waktu paling singkat satu bulan lagi untuk menyelesaikan tiga bab itu. Ini sudah akhir februari. Kalaupun selesai 3 bab tersebut pada akhir maret nanti, aku baru bisa daftar seminar dibulan april. Itu artinya aku baru bisa naik seminar di bulan Mei. Belum lagi hasil, belum lagi revisi, ditambah dengan kesibukanku dan tanggung jawab yang masih melekat di dewan kerja. Aku bahkan tidak yakin akan wisuda di bulan Agustus nanti. 

            Andai saja aku mulai lebih awal, aku mungkin sudah berada jauh sekarang. Bisa saja aku sudah naik seminar proposal. Atau mungkin, aku sedang mengerjakan hasil. Sekali lagi, sayangnya, itu hanya pengandaianku saja. Aku menyesal. Aku menyesal ? Iya. AKU. MENYESAL.

            Tapi, percayalah teman – temanku. Betapapun aku menyesali itu, tidak sedikitpun hal itu menyulut semangatku untuk tetap berusaha. Aku tau itu terjadi karena egoku. Itu terjadi karena kemalasanku. Itu pilihanku. Dan kini, aku siap dengan resikonya. Entahlah. Intinya, aku tetap berusaha. Tidak ada kata terlambat bagiku. Aku akan mulai menulis sekarang, dan akan aku selesaikan secepatnya. 

            Mamak, Ayah, Abang, teman – teman, lihatlah. Aku akan wisuda tahun ini. Aku akan pakai toga itu. Aku akan pegang map hitam dengan logo Unsyiah di depannya. Mamak, jangan lupa siapkan aku kebaya yang cantik. Belikan aku sepatu high heels yang mewah. Ayah, secuek apapun ayah, aku tau Ayah paling sayang dengan anak perempuan ayah satu – satunya. Ayah akan datang menghadiri undangan wisudaku, nanti. Abang, jangan lupa kasih papan bunga dengan tulisan “Selamat atas wisuda adikku, Mira Alfira S.Mat.” Kita akan berfoto lalu akan kubingkai foto itu dan aku pasang ditengah – tengah ruang tamu rumah kita. Teman – temanku, jangan lupa datang, akan ku traktir kalian semua, pakai uang orangtuaku tentunya (kalau punya duit sendiri, gak minta ke orangtua deh, hehe).

            Untuk itu, hingga saatnya tiba, doakan aku. Dengan segala keterbatasanku, aku ingin menyelesaikan skripsiku, segera.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar